hujan salju

Jumat, 18 Mei 2012

Fungsi Tujuan Dan Kegunaan Evaluasi Pendidikan Islam


Fungsi, Tujuan Dan Kegunaan Evaluasi Pendidikan Islam 
 
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
Edi martuah saragih 
( 310927225 )
PAI – VI
SEMESTER - V


 





FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
 2011

KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum wr.wb
          Alhamdulillahirabbil’alamin, Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT berkat Rahmat dan Hidayah Allah SWT, saya dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Tekhnik Evaluasi pengajaran Agama Islam.
            Dalam makalah ini pembahasan yang akan dibicarakan adalah mengenai Fungsi, Tujuan Dan Kegunaan Evaluasi Pendidikan Islam. Yang diharapkan dapat menambah wawasan kita semua. Kiranya segala perbaikan yang mengarah pada kesempurnaan makalah ini baik berupa kritik maupun saran dari para pembaca sangatlah saya harapkan. Agar nantinya makalah ini menjadi lebih baik.
            Selanjutnya kepada bapak dosen yang telah memberi bimbingannya kami ucapkan terimakasih. Dan atas semua kesalahan dan kekurangan kami mohon maaf dan kepada Allah saya mohon ampun.


Medan,    23 September   2011

                                                                                                Penulis







DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................................................. i
Daftar Isi............................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................. 1
a. Latar belakang Masalah........................................................................................... 1
b. Rumusan Masalah.................................................................................................... 2
c. Tujuan Makalah....................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 3
a. Pengertian evaluasi.............................................................................................. 3
b. RuangLingkup dan Jenis Evaluasi....................................................................... 5
c. Sasaran Evaluasi.................................................................................................. 6
d. Fungsi Evaluasi................................................................................................... 8
e. Tujuan Evaluasi.................................................................................................... 9
f. Ihtiar membangun teknik Evaluasi Ideal Untuk Pendidikan Islam..................... 10
g. Fungsi Pendidikan Islam..................................................................................... 12
h. Kegunaan Evaluasi Pendidikan Islam................................................................. 17
i. Tujuan Evaluasi Pendidikan Islam....................................................................... 19
BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 22
 Kesimpulan......................................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 23






BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar belakang
            Secara etimologi. Evaluasi berasal dari bahasa Inggris : Evaluation akar katanya Value yang berarti menilai atau harga.[1] Nilai dalam bahasa Arab disebut al-Qimah atau al-Taqdir.[2] Dengan demilian secara harfiah , evaluasi pendidikan al-Tagdir al-tarbawiy dapat diartikan sebagai penilaian dalam (bidang) pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan[3] Secara terminologi. Menurut Edwind Waudt, evaluasi mengandung pengertian: suatu tindakan atau proses dalam menentukan sesuatu. [4]
menurut M.Chabib Thaha, evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan objek dangan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.[5] Dengan demikian evaluasi bukan sekedar menilai sesuatu secara terencana, sistematis, dan berdasarkan tujuan yang jelas.
            Evaluasi sangat dibutuhkan dalam berbagai kegiatan kehidupan manusia sehari-hari, karena disadari atau tidak, sebenarnya evaluasi sudah sering dilakukan, baik untuk diri sendiri maupun kegiatan sosial lainnya. Hal ini dapat dilihat mulai dari berpakaian, setelah berpakaian ia berdiri dihadapan kaca apakah penampilannya sudah wajar atau belum.
            Dalam pendidikan islam evaluasi merupakan salah satu komponen dan sistem pendidikan islam yang harus dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur beberhasilan atau target yang akan yang akan dicapai dalam proses pendidikan islam dan pembelajaran.Dalam makalah ini yang dibahas adalah fungsi evaluasi,tujuan evaluasi, dan kegunaan evaluasi pendidikan islam.
            Dalam pendidikan Islam, tujuan merupakan sasaran ideal yang hendak dicapai. Dengan demikian kurikulum telah di rancang, di susun dan di proses dengan maksimal, hal ini pendidikan Islam mempunyai tugas yang berat. Di antara tugas itu adalah mengembangkan potensi fitrah manusia (anak).
            Evaluasi yang baik haruslah didasarkan atas tujuan pengajaran yang ditetapkan oleh suro dan kemudian benar-benar diusahakan oleh guru untuk siswa. Betapapun baiknya, evaluasi apabila tidak didasarkan atas tujuan pengajaran yang diberikan, tidak akan tercapai sasarannya.
B.   rumusan masalah
            Dalam Sebagai mana di singgung latar belakang masalah maka dalam penulisan ini penulis akan memformulasikan beberapa rumusan masalah sebagai mama berikut; Bagaimana evaluasi hasil belajar.
C.   tujuan makalah
            Tujuan yang ingin di tulis dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1)    Mengetahui fungsi evaluasi pendidikan islam
2)    Mengetahui tujuan evaluasi pendidikan islam
3)    Mengetahui kegunaan evaluasi pendidikan islam

BAB II
PEMBAHASAN
Fungsi, Tujuan Dan Kegunaan Evaluasi Pendidikan Islam
            Dalam pendidikan Islam, tujuan merupakan sasaran ideal yang hendak dicapai. Dengan demikian kurikulum telah di rancang, di susun dan di proses dengan maksimal, hal ini pendidikan Islam mempunyai tugas yang berat. Di antara tugas itu adalah mengembangkan potensi fitrah manusia (anak).[6]
            Untuk mengetahui kapasitas, kwalitas, anak didik perlu diadakan evaluasi. Dalam evaluasi perlu adanya teknik, dan sasaran untuk menuju keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Evaluasi yang baik haruslah didasarkan atas tujuan pengajaran yang ditetapkan oleh suro dan kemudian benar-benar diusahakan oleh guru untuk siswa. Betapapun baiknya, evaluasi apabila tidak didasarkan atas tujuan pengajaran yang diberikan, tidak akan tercapai sasarannya.
A.                Pengertian Evaluasi
            Menurut bahasa, kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris “evalution”, yang berarti penilaian atau penaksiran. (John M. Echts dan Hasan Shadily, 1983 : 220). Sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan intrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur memperoleh kesimpulan.
            Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 ayat 21 dijelaskan bahwa evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggung jawaban penyelenggaraan pendidikan.
            Dalam PP.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab I pasal 1 ayat 17 dikemukakan bahwa “penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik”.
            Ditjen Dikdasmen Depdiknas (2003 : 1) secara eksplisit mengemukakan bahwa antara evaluasi dan penilaian mempunyai persamaan dan perbedaan.
            Secara rasional filosofis, pendidikan Islam bertugas untuk membentuk al-Insan al-Kamil atau manusia sempurna. Oleh karena itu, hendaknya di arahkan pada dua dimensi, yaitu : dimensi dialektikal horitontal, dan dimensi ketundukan v ertikal.
            Menurut bahasa, kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris “evalution”, yang berarti penilaian atau penaksiran. (John M. Echts dan Hasan Shadily, 1983 : 220). Sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan intrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur memperoleh kesimpulan
            Didalam bukunya Designing Evalutor Of Education and Social Program, telah memberikan uraian tentang prinsip-prinsip dasar evaluasi antara lain :
1)    Evaluasi program pendidikan merupakan kegiatan yang dapat membantu pemerintah dalam mencapai tujuannya.
2)    Evaluasi seyogyanya tidak memberikan jawaban terhadap suatu pertanyaan khusus. Bukanlah tugas evalutor memberikan rekomendasi tentang kemanfaatan suatu program dan dilanjutkan atau tidak. Evalutor tidak dapat memberikan pertimbangan kepada pihak lain, seperti halnya seorang pembimbing tidak dapat memilihkan karier seorang murid. Tugas evalutor hanya memberikan alternatif.
3)    Evaluasi merupakan suatu proses terus menerus, sehingga didalam proses didalamnya memungkinkan untuk merevisi apabila dirasakan ada suatu kesalahan-kesalahan.
            Kalau dilihat prinsip yang terdapat didalam al-Qur’an dan praktek yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, maka evaluasi berfungsi sebagai berikut:
a. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dihadapi.
b. Untuk mengetahui sejauh mana atau sampai dimana hasil pendidikan wahyu yang telah disampaikan Rasulullah SAW, kepada ummatnya.
           
            Seorang pendidik melakukan evaluasi disekolah mempunyai fungsi sebagai berukut:
1. Untuk mengetahui peserta didik yang mana yang terpandai terbodoh dikelasnya.
2. Untuk mengetahui apakah bahan yang telah diajarkannya sudah dimiliki oleh peserta didik atau belum.
3. Untuk mendorong persaingat yang sehat antara sesama peserta didik.
4. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mengalami didikan dan ajaran.
5. Untuk mengetahui tepat atau tidaknya guru memilih bahan, metode, dan berbagai penyesuaian dalam kelas.
6. Sebagai laporan terhadap orang tua peserta didik dalam bentuk rapor, ijazah, piagam, dan sebaganya.
Menurut Cronbach, fungsi penilaian (evaluasi) adalah:
1. Penilaian membantu siswa merealisasikan dirinya untuk mengubah atau mengembangkan prilakunya.
2. Penilaian membantu siswa mendapat kepuasan atas apa yang telah dikerjakannya.
3. Penilaian membantu guru untuk menetapkan apakah metode mengajar yang digunakannyatelah memadai.
4. Penilaian membantu guru membuat pertimbangan administrasi.
B. Ruang Lingkup dan Jenis Evaluasi
            Anas Sudijono membagi lingkup evaluasi dalam bidang pendidikan di sekolah menjadi tiga, yaitu:
1.      Evaluasi mengenai program pengajaran,
2.      Evaluasi mengenai proses pelaksanaan pengajaran,
3.      Evaluasi mengenai hasil belajar[7]
            Pembagian ini terasa sempit,  karena hanya melingkupi proses pembelajaran saja. Dalam konteks yang lebih luas A. Janan Asifuddin menilai bahwa evaluasi pendidikan mestinya tidak hanya berkutat pada masalah pengajaran saja. Menurutnya, evaluasi pendidikan juga harus mencakup masalah seperti tujuan pendidikan, metode, sarana, guru, dan lainnnya. Untuk itu, menurut Janan, dalam evaluasi pendidikan paling tidak dikenal tiga jenis evaluasi yaitu:
1.      Evaluasi pendidikan,
2.      Evaluasi hasil belajar, dan
3.       Evaluasi kurikulum[8]
C. Sasaran Evaluasi
Yang dimaksud dengan sasaran evaluasi pendidikan ialah segala sesuatu yang dijadikan titik pusat perhatian/pengamatan. Salah satu cara untuk mengetahui objek dari evaluasi pendidikan adalah dengan jalan menyorotinya dari tiga aspek, yaitu input, transformasi, dan output[9].
1. Input
Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran di sekolah, input tidak lain adalah calon siswa. Calon siswa sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau dari segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani setidak-tidaknya mencakup empat hal:
a. Kemampuan
Untuk dapat mengikuti program pendidikan suatu lembaga/sekolah/institusi maka calon peserta didik harus memiliki kemampuan yang sepadan atau memadai, sehingga nantinya peserta didik tidak akan mengalami hambatan atau kesulitan.
b. Kepribadian
Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri manusia dan menampakkan bentuknya dalam tingkah laku. Dalam hal-hal tertentu, informasi tentang kepribadian sangat diperlukan, sebab baik-buruknya kepribadian secara psikologis akan dapat mempengaruhi mereka dalam mengikuti program pendidikan. Alat untuk mengetahui kepribadian seseorang disebut Personality Test.
c. Sikap
Sebenarnya sikap ini merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Namun karena sikap ini merupakan sesuatu yang paling menonjol dan sangat dibutuhkan dalam pergaulan maka informasi mengenai sikap seseorang penting sekali. Alat untuk mengetahui keadaan sikap seseorang dinamakan Attitude Test.
d. Inteligensi
Untuk mengetahui tingkat inteligensi seseorang digunakan tes inteligensi yang sudah banyak diciptakan oleh para ahli. Seperti, tes Binet-Simon (buatan Binet dan Simon), SPM, Tintum, dsb. Dari hasil tes akan diketahui IQ (Intelligence Qoutient) yaitu angka yang menunjukkan tinggi rendahnya inteligensi seseorang tersebut.
2. Transformasi
Transformasi yang dapat diibaratkan sebagai “mesin pengolah bahan mentah menjadi bahan jadi”, akan memegang peranan yang sangat penting. Ia dapat menjadi faktor penentu yang dapat menyebabkan keberhasilan atau kegagalan dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan; karena itu objek-objek yang termasuk dalam transformasi itu perlu dinilai/dievaluasi secara berkesinambungan. Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek penilaian demi diperolehnya hasil pendidikan yang diharapkan antara lain:
a. Kurikulum/materi pelajaran,
b. Metode pengajaran dan cara penilaian,
c. Sarana pendidikan/media pendidikan,
d. Sistem administrasi,
e. Guru dan personal lainnya dalam proses pendidikan.
3. Output
Sasaran evaluasi dari segi output adalah tingkat pencapaian atau prestasi belajar yang berhasil diraih peserta didik setelah mereka terlibat dalam proses pendidikan selama jangka waktu yang telah ditentukan. Ranah yang biasa digunakan adalah tiga trikhotomik Benyamin Bloom, yaitu kognitif, Afektif dan psikomotor.
Sasaran di atas, merupakan obyek dari evaluasi pendidikan, evaluasi pengajaran dan evaluasi kurikulum. Akan tetapi untuk evaluasi kebijakan, sasarannya adalah kebijakan yang telah diputuskan dan diimplementasikan. Evaluasi ini meliputi dasar kebijakan, desain, implementasi, dan hasilnya.[10]  Sedangkan evaluasi meta, sasarannya adalah proses atau kegiatan evaluasi itu sendiri.[11]
D . Fungsi Evaluasi
            Kalau dilihat prinsip yang terdapat didalam al-Qur’an dan praktek yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, maka evaluasi berfungsi sebagai berikut:
a. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dihadapi.[12]
b. Untuk mengetahui sejauh mana atau sampai dimana hasil pendidikan wahyu yang telah disampaikan Rasulullah SAW, kepada ummatnya.[13]
Seorang pendidik melakukan evaluasi disekolah mempunyai fungsi sebagai berukut:
1. Untuk mengetahui peserta didik yang mana yang terpandai terbodoh dikelasnya.
2. Untuk mengetahui apakah bahan yang telah diajarkannya sudah dimiliki oleh peserta didik atau belum.
3. Untuk mendorong persaingat yang sehat antara sesama peserta didik.
4. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mengalami didikan dan ajaran.
5. Untuk mengetahui tepat atau tidaknya guru memilih bahan, metode, dan berbagai penyesuaian dalam kelas.
6. Sebagai laporan terhadap orang tua peserta didik dalam bentuk rapor, ijazah, piagam, dan sebaganya.[14]
Menurut Cronbach, fungsi penilaian (evaluasi) adalah:
1. Penilaian membantu siswa merealisasikan dirinya untuk mengubah atau mengembangkan prilakunya.
2. Penilaian membantu siswa mendapat kepuasan atas apa yang telah dikerjakannya.
3. Penilaian membantu guru untuk menetapkan apakah metode mengajar yang digunakannyatelah memadai.
4. Penilaian membantu guru membuat pertimbangan administrasi.[15]
E. Tujuan Evaluasi
            Berdasarkan UU SISDIKNAS, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.[16]
            Evaluasi terhadap hasil belajar bertujuan untuk mengetahui ketuntasan siswa dalam menguasai kompetensi dasar. Dari hasil evaluasi tersebut dapat diketahui kompetensi dasar, materi, atau indikator yang belum mencapai ketuntasan. Dengan mengevaluasi hasil belajar, guru akan mendapatkan manfaaat yang besar untuk melakukan program perbaikan yang tepat. Jika ditemukan sebagian siswa gagal, perlu dikaji kembali apakah instumen penilaiannya terlalu sulit, apakah instrument penilaiannya sudah sesuai dengan indikatornya, ataukah cara pembelajarannya (metode, media, dan tehnik) yang digunakan kurang tepat.[17]
            Tujuan evaluasi (penilaian) tidak hanya memberikan dasar pemberian angka atas hasil belajar siswa. Tetapi evaluasi hasil belajar bertujuan untuk:
1. Memberikan informasi tentang kemajuan individu siswa dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar sehuubungan dengan kegiatan-kegiatan belajar yang telah dilakukannyaa.
2. Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatan-kegiatan belajar lebih lanjut, baik terhadap masing-masing individu siswa maupun terhadap kelas.
3. Memberikan informasi yang dapat digunakan oleh guru dan oleh siswa untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, menetapkan kesulitan-kesulitannya, dan untuk melaksanakan kegiatan remedial (perbaikan).
4. Mendorong motivasi belajar siswa dangan cara mereka mengenal kemajuan sendiri dan merangsangnya untuk melakukan usaha perbaikan.
5. Memberikan informasi tentang semua aspek kemajuan setiap siswa dan pada gilirannya guru dapat membantu pertumbuhannya secara efektif menjadi anggota masyarakat dan pribadi yang baik.
6. Memberikan bimbingan yang tepat untuk memilih sekolah atau jabatan yang sesuai dengan kecakapan, minat, dan kesanggupannya.[18]
Secara umum evaluasi bertujuan untuk memberikan penghargaan terhadap pencapaian belajar siswa dan memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran.[19]
F. Ihtiar Membangun Teknik Evaluasi Ideal untuk Pendidikan Islam
            Dalam Pendidikan Islam ada karakteristik yang sama dengan pendidikan secara umum, akan tetapi dalam hal-hal tertentu mempunyai karakter yang spesifik. Oleh karena itu, dalam evaluasi, ada yang bisa menggunakan cara yang dipakai secara umum dalam dunia pendidikan, akan tetapi dalam hal-hal tertentu harus mengembangkan sendiri model evaluasi yang sesuai. Sebagai contoh adalah Pendidikan Agama Islam. Hasil dari pendidikan agama ini adalah kualitas keberagamaan siswa. Keberagamaan adalah agama sebagaimana diterima oleh siswa dalam pikirannya, perasaannya dan tindakannya. Gambaran keberagamaan seseorang ini secara terperinci disebut peta keberagamaan atau psikografi agama yang  meliputi dimensi ideologis, ritualistik, konsekuensial, eksperiensial dan intelektual.[20]
            Menurut Jamaludin Ancok lima dimensi keberagamaan yang mulanya dirumuskan oleh Glock & Stark itu banyak dipakai oleh ahli psikologi dan sosiologi. Rumusan itu melihat keberagamaan tidak hanya dari dimensi ritual semata tetapi juga pada dimensi-dimensi lain. Ancok menilai, meskipun tidak sepenuhnya sama, lima dimensi keberagamaan rumusan Glock & Stark itu bisa disejajarkan dengan konsep Islam. Dimensi ideologis bisa disejajarkan dengan akidah, dimensi ritualistik bisa disejajarkan dengan syari’ah, khususnya ibadah dan dimensi konsekuensial bisa disejajarkan dengan akhlak. Akidah, syari’ah dan akhlak menurut sebagian besar pemikir Islam adalah inti dari ajaran Islam. Dimensi intelektual mempunyai peran yang cukup penting pula karena pelaksanaan dimensi-dimensi lain sangat membutuhkan pengetahuan terlebih dahulu. Sedangkan dimensi eksperiensial dapat disejajarkan dengan dimensi tasawuf atau dimensi mistik.[21]
            Evaluasi Pendidikan Agama tentunya berbicara tentang apa yang bisa dan harus diukur/dievaluasi dalam diri siswa sebagai hasil dari proses Pendidikan Agama. Selama ini, pengembangan instrument evaluasi didasarkan pada tiga domain Bloom: kognitif, afektif dan psikomotor. Kalau digambarkan, akan membentuk pola seperti di bawah ini:
KOMPETENSI
DAN MATERI
DOMAIN BLOOM
INDIKATOR
STRATEGI
PEMBELAJARAN
STRATEGI
EVALUASI
Kompetensi dan Materi-materi PAI
Kognitif
Indikator-indikator sesuai masing-masing domain
Strategi pembelajaran sesuai materi dan domain
Strategi evaluasi sesuai materi dan domain
Afektif
Psikomotor
Ket: Alur evaluasi PAI dalam kerangka domain Bloom.
            Alur dengan domain Bloom ini perlu untuk dikaji ulang, apakah memang sudah bisa mewakili untuk menukur dan mengeavluasi konsep (construct) keberagamaan seseorang. Alternative yang bisa dikembangkan adalah mengganti domain Bloom dengan dimensi-dimensi psikografi agama. Dimensi-dimensi psikografi agama itu kemudian dirumuskan apa indikatornya dan bagaimana teknik evaluasi yang tepat. Dalam kerangka psikografi agama, maka alur evaluasi PAI bisa diilustrasikan sebagaimana berikut ini:
KOMPETENSI
DAN MATERI
DIMENSI KEBERAGAMAAN
INDIKATOR-INDIKATOR
STRATEGI
PEMBELAJA-RAN
STRATEGI
EVALUASI
Kompetensi dan Materi-materi PAI
Ideologis
Indikator-indikator sesuai masing-masing dimensi
Strategi pembelajaran sesuai materi dan dimensi
Strategi evaluasi sesuai materi dan domain
Ritual
Konsekuensial

Intelektual
Eksperiensial
Ket: Alur evaluasi PAI dalam kerangka psikografi agama
            Dimensi intelektual bisa diukur dengan teknik tes. Sebagian dimensi ritual bisa dengan tes performansi atau unjuk kerja. Tetapi tentang keaktifan dia dalam menjalani ritual sehari, tentu tidak bisa dengan teknik tes. Tapi harus dengan wawancara, observasi dan portofolio sebagaimana dimensi konsekuensial atau akhlak. Yang sulit untuk diukur tentu adalah dimensi ideologis atau akidah dan dimensi eksperiensial. Yang paling dekat dengan dimensi ini adalah domain afektif, tetapi tentu saja domain afektif tidak bisa mewakili secara persis dimensi ideologis dan eksperiensial. Teknik pengukuan non-tes adalah yang paling dekat untuk dimensi ini, tetapi perlu dikembangkan lebih jauh agar tidak terjebak sebatas apa yang digunakan dalam pengukuran afektif.
            Bila evaluasi terhadap seluruh dimensi keberagamaan ini bisa berjalan secara proporsional, maka informasi tentang kualitas keberagamaan siswa tidak akan berat sebelah kepada domain kognitif atau dimensi intelektual semata, tetapi akan mencerminkan keadaan yang lebih utuh. Dalam langkah validasi, maka jika kondisi yang utuh ini bisa terwakili, bisa dikatakan bahwa validitas construct-nya bisa dipertanggung jawabkan.

G. Fungsi Pendidikan Islam
            Secara khusus dan lebih rinci Sudijono membahas fungsi penilaian dari tiga cara, yaitu: secara psikologis, secara didaktis, dan secara administratif. ( Sudijono, 1996: 10 )
1.      Secara Psikologis
            Fungsi evaluasi akan memberikan pedoman masal bagi siswa untuk mengenal kemampuan dan status dirinya apa ia terrnasuk kelompok atas, sedang, atau rendah di dalam kelasnya. di samping itu, fungsi evaluasi memberikan kepastian kepada guru sejauh mana usaha siswanya telah tercapai, sehingga haI ini dapat dijadikan pedoman untuk menentukan langkah-langkah seterusnya, misalnya penentuan strategi mengajar.
2.      Secara Didaktis
            Fungsi evaluasi berguna untuk menimbulkan dan rnemperbaiki serta meningkatkan motivasi belajar siswa. evaluasi juga berfungsi sebagai landasan guru untuk melihat hasil usahanya yang telah dicapai oleh siswanya. dalam hal ini evaluasi berfungsi mendiagnosa bagian-bagian mana yang sulit dipahami oleh siswa pada umumnya, yang selanjutnya dicari pemecahannya. Fungsi evaluasi yang lain ialah sangat berguna bagi guru unluk menentukan posisi siswanya dalam kelas, juga berfungsi untuk menetapkan status siswanya naik atau tidak, lulus atau tidak, dapat diterima atau tidak. Terakhir Fungsi evaluasi juga berguna bagi guru untuk menentukan jalan yang terbaik di dalam membimbing/memberi penyuluhan bagi siswanya.
3.      Secara Administratif
            Evaluasi juga berfungsi sebagai:
ü    laporan kemajuan dan perkembangan siswa sekolah mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu.  Bahan informasi untuk dijadikan pertimbangan pengambilan keputusan, dan gambaran tentang kualitas siswa apa hasilnya memperihatinkan ataukah menggembirakan.
ü            Sedangkan menurut pendapat Rooijakkers mengatakan bahwa fungsi evaluasi ada tiga, yaitu: Fungsi hasil, fungsi proses, dan fungsi-institusional. ( Rooijakkers, Jakarta: 1991: 142-143 )
a. fungsi Hasil
            Untuk me!ihat sampai sejauh mana mahasiswa berhasil untuk mengerti, artinya seorang pengajar berhasrat mengetahui sampai di mana mahasiswa atau muridnya berhasil menyelesaikan proses belajar.
b. fungsi Proses
            Pengajar itu sendiri ingin meneliti sampai di mana dia berhasil memberikan kemungkinan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan proses belajarnya.
c. Fungsi lnstitusional
            Fungsi ini berkaitan dengan lembaga untuk menentukan kelulusan seseorang murid. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sebenarnya fungsi institusional itu tidak termasuk fungsi penilaian, tetapi lebih cendrung termasuk ke dalam suatu proses belajar mengajar, artinya sete!ah pengajar mengetahui sampai di dimana mahasiswa belajar dan sampai di mana dia sendiri mengajar, maka dia harus membuat keputusan siapa dan berapa mahasiswanya harus lulus sesuai dengan peraturan lembaga yang berlaku. Dalam hal ini sebaiknya guru mengikuti peraturan tersebut.
            Berdasarkan berbagai pendapat di atas, disimpulkan bahwa fungsi evaluasi berguna bagi: siswa, guru, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Bagi siswa, evaluasi berfungsi untuk: mengetahui kemampuan dan hasil belajarnya, memperbaiki cara belajar, dan mendorong motivasi belajar.
            Fungsi evaluasi dalam proses belajar mengajar meliputi hal-hal:
v  Sebagai umpan balik dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar artinya umpan balik bagi guru yang menjadi dasar untuk memperbaiki proses belajar siswa dan proses mengajar guru. Fungsi lain umpan balik atas hasil evaluasi adalah untuk membuat program tersebut bagi siswa tertentu yang mangalami kesulitan belajar.Untuk mengetahui, mengukur atau menentukan kemajuan prestasi belajar siswa. Data ini dapat dijadikan siasat laporan kepada orang tua siswa sehingga ia mengetahui kemajuan prestasi putra-putrinya.
v   Untuk mendapatkan data tentang tingkat kemampuan siswa, bakat dan minat yang mereka miliki.
v   Untuk mengetahui latar belakang siswa tertentu yang memerlukan bantuan khusus karena mengalami kesulitan belajar. (uzer Usman dan Seiiawati, 1993: 137)
            Berikut juga dikatakan evaluasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran mempunyai fungsi sebagai berikut:
a)    untuk mengetahui kesiapan anak dalam rangka menempuh suatu pendidikan tertentu.
b)    Untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang dicapai dalam proses pendidikan yang telah dilaksanakan.
c)    Untuk mengetahui apakah suatu mata pelajaran yang diajarkan dapat dilanjutkan dengan materi yang baru ataukah mengurangi kembali yang telah lampau.
d)    Untuk mendapatkan bahan-bahan informasi dalam memberikan bimbingan tentang jenis pendidikan atau jabatan yang cocok untuk anak tersebut.
e)    Untuk mendapatkan bahan-bahan informasi dalam menentukan apakah seorang anak dapat dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi atau harus mengulang di kelas semula,
f)     Untuk membandingkan apakah prestasi yang dicapai anak­-anak sudah sesuai dengan kapasitasnya atau belum.
g)    Untuk menafsirkan apakah seorang anak telah cukup matang untuk dilepas kedalam masyarakat atau untuk melanjutkan kelembaga pendidikan yang lebih tinggi.
h)   Untuk mengadakan seleksi dan mengetahui tarap efesiensi metode yang digunakan dalam proses pembelajaran. (nurkancank, sunartana, 1986: 127)
            Fungsi evaluasi adalah membantu anak didik agar ia dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar, serta memberi bantuan kepadanya cara meraih suatu kepuasan bila berbuat sebagaimana mestinya. Di samping itu fungsi evaluasi juga dapat membantu seorang pendidik dalam mempertimbangkan adeqvate (baik tidaknya) metode mengajar, serta membantu mempertimbangkan administrasinya.
            Evaluasi merupakan penilaian tentang suatu aspek yang dihubungkan dengan situasi aspek lainnya, sehingga diperoleh gambaran yang menyeluruh jika ditinjau dari beberapa segi. Oleh karena itu dalam melaksanakan evaluasi harus memperhatikan berbagai prinsip antara lain :
1. Prinsip Kesinambungan (kontinuitas)
            Dalam ajaran Islam, sangat memperhatikan prinsip kontinuitas, karena dengan berpegang pada prinsip ini, keputusan yang diambil oleh seseorang menjadi valid dan stabil (Q.S. 46 : 13-14).
2. Prinsip Menyeluruh (komprehensif)
            Prinsip yang melihat semua aspek, meliputi kepribadian, ketajaman hafalan, pemahaman ketulusan, kerajinan, sikap kerjasama, tanggung jawab (Q.S. 99 : 7-8).
3. Prinsip Objektivitas
            Dalam mengevaluasi berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak boleh dipengaharui oleh hal-hal yang bersifat emosional dan irasional.
            Tujuan dan fungsi evaluasi tidak hanya ditekankan pada aspek kognitif akan tetapi meliputi ketiga ranah tersebut (kognitif, afektif dan psikomotorik). Yang mempunyai tiga prinsip yaitu prinsip keseimbangan, menyeluruh dan obyektif. Dalam kegiatan evaluasi tersebut sistem yang dipakai yaitu mengacu pada al-Qur’an yang penjabarannya dituangkan dalam as-Sunnah.
            Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan, fungsi pokok evaluasi adalah untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan anak didik setelah mengalami atau melakukan kegiatan pembelajaran selama jangka waktu tertentu. Mengetahui kekurangan siswa sehingga dapat diusahakan mencari jalan perbaikan dan yang terakhir mengetahui keberhasilan program pembelajaran atau rencana pembelajaran yang telah disusun.
            Disisi lain data yang diperoleh dari hasil evaluasi digunakan untuk perlengkapan bimbingan, membuat diagnose mengenai kelemahan-kelemahan dan kekuatan pada hal-hal yang memerlukan remidi. Menyediakan dasar yang diperlukan untuk perbaikan kurikulum dan mengintroduksi pengalaman-pengalaman untuk mendapatkan kebutuhan individu atau kelompok siswa.
Evalusi memungkinkan kita untuk:
a)    Mengukur kompetensi kapabilitas siswa, apakah mereka telah merealisasikan tujuan yang telah ditentukan.
b)    Menentukan tujuan mana telah merealisasikan, sehingga tindakan perbaikan yang cocok dapat diadakan.
c)    Menetukan rangking siswa, Dalam hal kesuksesan mereka mencpai tujuan yang telah disepakati.
d)    Memberi informasi kepada guru tentang cocok atau tidaknya strategi mengajar yang digunakan, supaya kelebihan dan kekurangan strategi itu dapat diperbaiki.Merencanakan prosedur untuk memperbaiki rencana pelajaran, dan menentukan apakah sumber belajar tambahan perlu digunakan. (Ivor K Devis, Pengelolaan Belajar, 1994: 294)
            Apabila dikaitkan dengan proses pembelajaran, hasil penilaian berfungsi sebagai Acuan penentuan kenaikan kelas dan kelulusan, atas seleksi, alat penempatan dan alat motivasi. (Mappa, 1995: 3 - 4)
Mengacu pada beberapa pendapat di atas, evaluasi memiliki beberapa fungsi, yaitu:
a. Fungsi Formatif
            Hasil evaluasi yang digunakan untuk memperbaiki hasil beiajar dan kegiatan pembelajaran secara terus menerus atau sebagai umpan balik bagi siswa dan guru, dan mengadakan remedial (perbaikan) program bagi murid.
            Evaluasi formatif adalah evaluasi hasil belajar jangka pendek, yaitu evaluasi hasil be!ajar pada akhir setiap satuan pelajaran.
b. Fungsi Sumatif
            Untuk menentukan anak kemajuan/hasil belajar masing-masing murid yang antara lain untuk pemberian laporan kepada orang tua, penentuan kenaikan kelas dan penentuan lulus tidaknya murid.
            Dengan demikian evaluasi sumatif adalah evaluasi hasil belajar jangka panjang, yaitu evaluasi hasil belajar pada akhir catur wulan, akhir tahun ajaran dari keseluruhan program.
c. Fungsi Penempatan
            Memberikan pengetahuan kepada guru sebagai avaluator untuk mengelompokkan siswa berdasarkan kriteria tertentu misalnya guru melakukan evaluasi terhadap kemampuan awal siswa pada materi pelajaran tertentu.
            Untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang tepat/program pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan (karakteristilc) lain yang dimiliki.
d. Fungsi Diagnostik
            Untuk mengenal latar belakang (psikologis, phisik dan milieu) murid yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan-kesulitan tesebut membantu memecahkan kesulitan tersebut dilaksanakan dengan evaluasi diagnostik.
H. Kegunaan Evaluasi
            Diantara manfaat atau kegunaan yang dapat diperoleh dari kegiatan evaluasi dalam lapangan pendidikan adalah:
1. Terbukanya kemungkinan untuk dapat dihimpun informasi, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif, tentang hasil-hasil yang telah dicapai dalam rangka pelaksanaan program pendidikan.
2. Terbukanya kemungkinan untuk dapat diketahuinya relevensi antara program pendidikan yang dirumuskan dengan tujuan yang hendak dicapai.
3. terbukanya kemungkinan untuk dapat dilakukannya usaha-usaha perbaikan, penyesuaian atau penyempurnaan program pendidikan, yang dipandang lebih efektif dan efesien, sehingga tujuan yang dicita-citakan dapat dicapai dengan tujuan yang sebaik-baiknya.
4. Bagi guru mengetahui kemajuan belajar siswanya, mengetahui status siswa di dalam kelasnya, mengetahui kekurangan proses belajarnya, memperbaiki proses belajar mengajarnya, dan menentukan keberhasilan siswanya.
5. Bagi sekolah, evaluasi berfungsi untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan, mengetahui kemajuan dan kemunduran seko!ah, membuat keputusan pada siswa, dan mengadakan perbaikan kurikulum.
6. Sedangkan bagi orang tua, evaluasi berfungsi untuk mengetahui hasil be!ajar anaknya, meningkatkan pemantauan dan bimbingan belajar, dan mengarahkan pendidikan jurusan atau sekolah lanjutannya.
7. Bagi masyarakat, evaluasi berfungsi untuk mengadakan kritik dan saran perbaikan kurikulum serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam meningkatkan usaha-usaha sekolah.
            Dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan, penilaian (evaluasi) mempunyai makna ditinjau dari berbagai segi.
a. Makna bagi siswa
Dengan diadakannya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauhmana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru, memuaskan atau tidak memuaskan.
b.Makna bagi guru
1). Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan, maupun mengetahui siswa-siswa yang belum berhasil menguasai bahan.
2). Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran di waktu yang akan datangtidak perlu diadakan perubahan.
3). Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum.
c. Makna bagi sekolah
1). Dengan kegiatan penilaian yang dilakukan guru dapat diketahui pula apakah kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum.
2). Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang akan dating.
3). Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ke tahun, dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah, yang dilakukan oleh sekolah sudah memenuhi standar atau belum.[22]
I. Tujuan Evaluasi Pendidikan Islam
            Tujuan pokok evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Indikator keefektifan itu dapai dilihat dari perubahan tingkah laku yang terjadi pada peserta didik. Perubahan tingkah laku yang terjadi itu dibandingkan dengan perubahan tingkah laku yang diha.rapkan sesuai dengan tujuan dan isi program pembelajaran. oleh karena iiu, instrumen evaluasi harus dikembangkan bertitik tolak kepada tujuan dan isi program, sehinyya bentuk dan format tes yang dikembangkan sesuai dengan tujuan dan karakteristik bahan ajar serfa propesinya sesuai dengan kekuatan dan kedalaman materi pelajaran yang diberikan. Hasil evaluasi informasi yang diperoleh betul-betul akurat mencerminkan keadaan siswa secara objektif.
            Informasi yang objektif dapat dijadikan bahan masukan untuk perbaikan proses dan program selanjutnya. Evaluasi dalam pembelajaran tidak semata-mata untuk menentukan ratting siswa melainkan juga harus dijadikan sebagai tekhnik atau cara pendidikan.
            Sebagai tekhnik aiau alat pendidikan evaluasi pembelajaran harus dikembangkan secara terencana dan terintegraiif dalam program pembelajaran, dilakukan secara kontinu, mengandung unsur paedagogis, dan dapat. lebih mendorong siswa aktif belajar.
            Selanjutnya dijelaskan, tujuan penilaian menurut Sudjana terpisah denyan fungsi penilaian. Sebagairnana dikatakan, tujuan penilaian adalah untuk:
a)    Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa, sehinyga dapai dipahami kurangan dalarn berbagai bidang studi. Dengan cara ini pula, dapat diketahui posisi seorang siswa di antara siswa-siswa yang lain.
b)    Mengetahui keberhasilan pendidikan dan pengajaran di sekolah, yaitu seberapa jauh keefektifanya mengubah perilaku siswa ke arah tujuan insiruksional yang telah ditentukan.
c)    Menenfukan tindak lanjut hasil petrilaian, yakni melakr:kan parbaikan clan penyempurnaan dalam aroses belajar rnengajar.
d)    Memberikan pertanggung-jawaban dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan seperti pemerintah, masyarakat, dan pihak orang tua.
            Dalam mempertanggung-jawabkan hasil-hasil yang telah dicapainya, sekolah melaporkan berbagai kelebihan dan keterbatasan sistim pendidikan dan pengajaran yang diterapkan. Laporan kepada pemerintah (Depdiknas) dilaksanakan oleh pefugas khusus, sedangkan laporan kepada masyarakat dan orang tua di sarnpaikan lewat raport pada setiap akhir program, semester, atau catur wulan. (Sudjana, 1989: 3)
            Sebagai contoh sebuah panitia seleksi bertujuan urrtuk mengetahui kemampuan, keterampilan, dan sikap yang ada pada calon-calon untuk jenis pendidikan tertentu. Seorang guru yang mengajar mata pelajaran tertentu.
            Mata pelajaran tertentu mengadakan evaluasi rnemiliki tujuan untuk mengetahui apakah materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa sudah dikuasai aiau belum. Menurut Thorndike dan Hagen yang dikutip oleh Chabib Thoha merinci tujuan evaluasi didasarkan pada delapan bidang, yakni:
a)    Dalam bidang pengajaran, evaluasi bertujuan menetapkan kompetensi isi pengajaran spesifik yang dimiliki oleh peserta didik dan memperbaiki proses mengajar.
b)    Dalam bidang hasil belajar, evaluasi bertujuan untuk mengetahui parbedaan kemampuan peserta didik, dan mengukur keberhasilan mereka secara individu maupun kelompok.
c)    dalam bidang diagnosiik, evaluasi melakukan diagnoslik terhadap kesulitan belajar peserta didik yang selanjutnya dipakai upaya mengadakan perbaikan terhadap cara belajar yang ada.
d)    dalam bidang penempalan, evaluasi dilaksanakan untuk memperoleh informasi tentang potensi peserta didik sehingga penempatannya disesuaikan dengan bakat dan minatnya.
e)    Evaluasi dapai dipakai sebagai alat dalam mengadakan seleksi terhadap penerimaan.
f)     Evaluasi bertujuan untuk rnelakukan penilaian total terhadap pelaksanaan kurikulum pada suatu tembaga pendidikan sehingga faktor penghambat dan pendukung terhadap pelaksanaan kurikutum. (Chabib Thoha, Tekhnik Evaluasi Pendidikan, Jakarta, 1991: 8 - 9)
            Dalam pendidikan Islam, tujuan evaluasi lebih ditekankan pada penguasaan sikap (afektif dan psikomotor) ketimbang asfek kogritif. Penekanan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik yang secara besarnya meliputi empat hal, yaitu :
a)    Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya.
b)    Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat.
c)    Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya.
d)    Sikap dan pandangan terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah SWT.
            Berdasarkan  keempat dasar tersebut di atas, dapat dijabarkan dalam beberapa klasifikasi kemampuan teknis, yaitu :
1.    Sejauh mana loyalitas dan pengabdiannya kepada Allah dengan indikasi-indikasi lahiriah berupa tingkah laku yang mencerminkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
2.    Sejauh mana peserta didik dapat menerapkan nilai-nilai agamanya da kegiatan hidup bermasyarakt, seperti ahlak yang mulia dan disiplin.
3.    Bagaimana peserta didik berusaha mengelola dan memelihara, serta menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya, apakah ia merusak ataukah memberi makna bagi kehidupannya dan masyarakat dimana ia berada.
4.    Bagaimana dan sejauh mana ia memandang diri sendiri sebagai hamba Allah dalam menghadapi kenyataan masyarakat yang beraneka ragam budaya, suku dan agama.




BAB III
KESIMPULAN
            Evaluasi pada hakikatnya adalah upaya untuk mencari informasi apakah proses, tujuan, kebijakan, atau kondisi yang diinginkan telah dicapai. Untuk mengetahui ini perlu ditentukan apa sesungguhnya sasaran yang dievaluasi, beserta domain, dimensi serta indikator-indikatornya. Lalu bagaimana teknik yang valid dan reliable untuk bisa digunakan menggali informasi.
            Pendidikan Islam merupakan sistem yang memiliki beberapa karakteristik berbeda dengan pendidikan pada umumnya, terutama karena agama (Islam) tidak sekedar menjadi mata pelajaran, tetapi paradigma yang melandasi dasar dan tujuannya. Oleh karena itu harus mengembangkan sendiri evaluasi yang sesuai dengan karakternya sendiri. Model, teknik dan instrumen evaluasi yang tidak tepat akan melahirkan informasi dan keputusan yang tidak tepat juga, sehingga tidak akan memberikan informasi yang tepat terhadap pencapaian tujuan-tujuan Pendidikan Islam yang sesungguhnya.












DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009

Hamalik ,Oemar, Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2002

Majid ,Abdul, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru,      Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2008

Nurmawati dan Hendri Fauza, Pengembangan Sistem Evaluasi Pendidikan Agama Islam,             Medan: Fakultas Tarbiyah IAIN-SU, 2005
Ramayulis, Ilmu Pendidikan islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2008

Sudion, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Grapindo Persada, 2005.

Undang-Undang SISDIKNAS, Bandung: Fokusmedia, 2009.
Wojowasito.s, w dan Tito Wasito, Kamus Lengkap Inggris Indonesia, Jakarta: Hasta,1980
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Raja Grafindo: Jakarta,  2006
A.    Janan Asifuddin, Mengungkit Pilar-pilar Pendidikan, Tinjauan Filosofis, Yogjakarta:         Suka-Press, 2009
Roland Robertson, Sociology of Religion Selected Reading, New York: Penguin Book, 1978
Jamaludin Ancok, Psikologi Islami, Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 1994



                [1] S.Wojowasito dan Tito Wasito W, Kamus Lengkap Inggris Indonesia (Hasta , Jakatra, 1980) hal. 267
                [2] Anas Sudion, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (PT. Grapindo Persada, Jakarta, 2005). hal.1
                [3] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Islam, ( Kalam Mulia, Jakarta, 2002). hal. 331
                [4] Edwind Wandt dalam Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Kalam Mulia, Jakarta, 2008). hal. 221
                [5] Ibid. h. 221
                [6] http://khoirulsidikesz.blogspot.com/2011/07/makalah-fungsl-tujuan-dan-kegunaan.html
                [7] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, hal.30
                [8] A. Janan Asifuddin, Mengungkit Pilar-pilar Pendidikan, Tinjauan Filosofis, (Yogjakarta: Suka-Press, 2009), hal. 131.
                [9] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, hal. 25-28
                [10] Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kebijakan hlm. 219.
                [11] Farida Yususf Thayibnapis, Evaluasi Program), hal. 176.
                [12] QS. Al-Baqarah: 155
                [13] QS. Al- Nahal: 40
                [14] Ramayulis, op. cit., h. 224
    [15] Cronbach, 1954 dalam Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar (Sinar Baru Algensindo: Bandung, 2002). h. 204
                [16] Undang-Undang SISDIKNAS, BAB XVI Pasal 58 Ayat 1, (Fokusmedia: Bandung, 2009). hal. 30
                [17] Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, (PT.Remaja Rosdakarya: Bandung,2008). hal.224
                [18] ibit. hal. 205
                [19] henri Fauza dan Nurmawati, Pengembangan Sistem Evaluasi Pendidikan Agama Islam, (Fakultas Tarbiyah IAIN-SU: Medan, 2005), hal. 5
[20] Roland Robertson, Sociology of Religion Selected Reading, (New York: Penguin Book, 1978), hal. 256-258
[21] Jamaludin Ancok, Psikologi Islami, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 1994), hlm. 76-80
                [22] Anas Sudijono, Strategi Penilaian Hasil Belajar pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Upaya Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional, hal. 48

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar